Jumat, 18 Desember 2015

Kehidupan jauh dari orang tua adalah hal yang tidak diinginkan oleh setiap anak, begitupun dengan aku, orang tuaku pun begitu. Pada dasarnya setiap keluarga pasti tidak ingin saling berjauhan, karena ingin slalu bersama. Tetapi, demi masa depanku orang tuaku dan sanak saudara mengusulkan aku untuk dididik di sebuah Pesantren yang masyhur di daerahku, sebut saja Pesantren Bahrul Ulum Islamic Centre biasanya terkenal dengan sebutan IC. Pesantren ini terkenal bagus dalam bidang bahasa asing, karena disana dalam percakapan sehari-harinya menggunakan bahasa asing( inggris dan arab). Dan aku juga sedikit tertarik karena dalam segi bahasanya sudah dikenal baik diseluruh penjuru Bangka. Tetapi aku sangat berat untuk mengambil keputusan itu, disamping aku tidak mau berpisah dengan keluargaku, aku juga berat jika harus menggunakan pakaian yang identik dengan hijab, karena dari kecil aku sudah terbiasa menggunakan pakaian yang tidak terlalu feminim. Awalnya aku menolak permintaan orang tuaku, tetapi aku berfikir kedepannya jika aku tidak berkelana keluar, aku akan menjadi apa? Semenjak itu lah, semenjak mendapatkan hikmah berupa keinginan berniat ingin masuk pesantren hidupku mulai teratur. Dengan adanya kedisiplinan peraturan, kebersamaan dengan teman-teman, hidup sesederhana mungkin, dan masih banyak yang aku dapat dari IC. di IC aku banyak mendapat pengalaman baru, kebersamaan yang aku lalui bersama temanku selama 6 tahun sangat menjadi motivasi hidupku kedepannya bahwa sesulit apapun masalah dalam kehidupan masih ada orang-orang disekitarku untuk selalu mendorong aku untuk menghadapi maslah tersebut,
Pada tahun kelima aku menjalani kehidupan di IC, Semua santriwati yang duduk di kelas XI SMA Plus Bahrul Ulum diwajibkan untuk menjadi pengurus santriwati yang lainnya(kelas I-X), kepengurusan ini disebut OSIC( Organisasi Santriwati Islamic Centre), mengurus mereka selama 24 jam, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Masing-masing pribadi kami dibagi kedalam berbagai divisi-divisi, ada yang menjabat sebagai Ketua, Bendahara, Sekertaris, Keamanan, Bahasa, Kebersihan, Kesehatan, Bapenta, Kepramukaan, Takmir Masjid, Informasi dan Komunikasi, Koperasi dan kantin, dan Kesenian. Aku diamanahkan dan dipercayai menjadi pengurus bahasa.
Awalnya aku bingung, kenapa aku ditunujuk sebagai bagian bahasa, tetapi mungkin pada kesempatan itu lah aku harus memperbaiki tataan bahasaku.
Selama kami menjabat sebagai OSIC 2013/2014 banyak cobaan yang berlalu lalang, terkadang program kerja yang kami rancang tidak didukung oleh pihak pembina OSIC, dikarenakan berbagai alasan tersendiri. Dan selama kami menjabat pula, konflik-konflik yang datang tak henti-hentinya, permasalahan dengan para asatidz,para anggota, bahkan para wali santriwati. Disaat kami down karena berbagai masalah yang datang, kami bingung  harus berbagi cerita dan meminta masukan kepada siapa, sedangkan para asatidz tidak mendukung sebagian proker kami, dan pembina OSIC pun jarang untuk turun tangan untuk membantu kami, disaat-saat itu kami hanya bisa bercerita sesama anggota OSIC dan senior OSIC yang telah berpengalaman menjadi OSIC. Berbagi cerita, menceritakan konflik-konflik setiap divisi, mencari solusinya, memberi masukan kepada sesama anggota OSIC merupakan pelajaran bagi kami untuk menjadi lebih dewasa.

Kamis, 17 Desember 2015

uin-suka.ac.id
seringkali kita mengagumi seseorang tanpa ada yang tahu, begitupun dengan aku. aku adalah seorang wanita yang tertutup, tertutup dalam segala hal, yaah bahkan termasuk dalam hal mengagumi seseorang. Bagi ku kekaguman dalam diam ini terkadang membuatku terhibur dan menjadi motivasi bagiku untuk menjadi seperti apa yang orang aku kagumi inginkan. Aku terus mencoba diam-diam ingin menuruti apa yang dia inginkan, menjadi wanita yang ia inginkan, dan hatiku juga merasa mantap akan itu.
mungkin ini adalah hal bodoh yang difikirkan mayoritas orang, menuruti apa yang orang aku kagumi. orang-orang banyak berprinsip "be your self", jika aku juga mengandalkan "be my self" mungkin aku tidak akan maju unutk melangkah kedepan, mungkin aku akan terus berlarut-larut dalam pribadiku yang buruk, bahkan lebih dari itu, yang tidak memiliki keinginan untuk maju, untuk memperbaiki diri dan tidak terketuk hatiku untuk semua itu. Dengan aku mengaguminya, aku merasa lebih nyaman, menjadi pribadi yang optimis menghadapi masa depanku.
tetapi, lama kelamaan aku menyadari semua ini, bahwa semua yang aku lakukan salah, salah niat. aku berubah menjadi lebih baik bukan karena diriku sendiri, bukan dari hatiku yang sesungguhnya, tetapi karena orang yang aku kagumi. Entah mengapa aku begini? yang aku takuti lagi, jika kelak kedepannya aku tidak mengaguminya lagi, apakah aku akan terus dalam perbaikan ini? karena aku merasa dia adalah motivasi bagiku untuk memperbaiki diri ini.
 Jika itu memang terjadi, rasa kagum itu berkurang dan perlahan luntur, ntah itu karena dia melupakanku, mengecewakanku atau meninggalkanku, aku akan berpesan kepada orang-orang disekitarku agar aku tetap istiqomah menjalani perbaikan ini, dan meminta mereka selalu untuk membinaku, kapanpun dan dimanapun itu.
Ku akui dia memang hebat, bisa membuatku sadar, memperbaiki diri, hal yang tidak disangka-sangka, yaah walaupun semua itu belum tuntas terlaksana. dengan motivasi yang dia berikan insya Allah akan menjadi amal jariyyah baginya.


Selasa, 15 Desember 2015


 

36 BUTIR PANCASILA

A.KETUHANAN YANG MAHA ESA
1.Percaya dan takwa kepada tuhan yang maha Esa sesuai  dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
2.Menghormati dan bekerja sama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup
3.Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadadah sesuai dengan agama dan keprcayaan
4.Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain
B.SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
1.Mengakui persamaan derajat,hak dan kewajiban antara sesama manusia
2.Saling mencintai sesama manusia
3.Mengembangkan sikap tengggang rasa
4.Tidak semena-mena terhadap orang lain
5.Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan
6.Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan
7.Berani membela kebenaran dan keadilan
8.Bangsa indonesia merasa dirinya sebagai bagian dirinya dari seluruh umat manusia,karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekrja sama dengan bangsa lain




C.SILA PERSATUAN INDONESIA
1.Menempatkan kesatuan,persatuan,kepentingan,dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan
2.Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara
3.Cinta tanah air dan bangsa
4.Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia
5.Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhineka tunggal Eka

D.SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
1.Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat
2.Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain
3.Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama
4.Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan
5.Dengan iktikat baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan   hasil musyawarah
6.Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur
7..Keputusan yang diambil harus dapat diprtanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan yang maha Esa.Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan kadilan




E.KEADILAN BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
1.Mengembangkan perbuatan-perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong
2.Bersikap adil
3.Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
4.Menghormati hak-hak orang lain
5.Suka memberi pertolongan kepada orang lain
6.Menjahui sikap pemerasan terhadap orang lain
7.Tidak bersifat boros
8.Tidak bergaya hidup mewah
9.Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentigan umum
10.Suka bekerja keras

11.Menghargai hasil karya orang lain
12.Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial










LANDASAN DAN TUJUAN PANCASILA

     Landasan pancasila mmiliki arti penting bagi kehidupan bangsa,pancasila merupakan suatu dasar negara Indonsia yang tedapat pada pembukaan UUD 1945 yang dirsmikan olh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945,yang diundangkan dalam berita republik Indonesia tahun II No.7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945.Dalam sejarahnya,pancasila telah mengalami berbagai macam interpretasi demi kokoh dan tegaknya suatu kekuasaan yang berlindung dibalik ideologi negara.dengan kata lain,kedudukan yang seperti ini pancasila tidak lagi diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bagi bangsa Indonesia.
*Landasan historis
Landasan historis adalah landasan yang berdasarkan pada jalan cerita masa lampau atau sejarah Bangsa Indonesia terbentuk dengan melalui proses yang begitu panjang dan bangsa indonesia adalah bangsa yang ingin menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang merdeka serta memiliki prinsip pandangan hidup serta filsafat hidup dan memiliki ciri khas,dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara lain.nilai-nilai yng terkandung dalam setiap pancasila tersebut kemudian dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara,pancassila harus selalu dijadikan acuan dalam bertingkah laku dalam berkehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.semua peraturan perundang-undangan yang ada juga tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai pancasila.
Terbentuknya bangsa indonesia melalui sejarah sejak masa kerajaan kutai,sriwijaya,majapahit,masa penjajahan dan kemudian mencapai kemerdekaan.Nilai-nilai yang ada dalam adat istiadat masyarakat sejak zaman kutai sampai majapahit semakin mengkristal pada era sejarah perjuangan Bangsa yang ditandai dengan perumusan pancasila sebagai dasar negara oleh para pendiri negara.Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa merupakan jati diri bangsa yang menunjukkan adanya ciri khas,sifat,karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain.


TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA
          Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilannya,menyatakan bahwa pendidikan nasional sendiri berakar pada kebudayaan bangsa indonesia,dan diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat martabat indonesia.Pendidiksn pancasila mengerahkan seluruh perhatiannya pada moral yang diharapkan dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari,yaitu perilaku yang mencerminkan ketakwaan kepada Tuhan yang maha Esa.dan dalam kehidupan bermasyarakat pun terdiri dari berbagai macam golongan: agama,suku,perilaku berbudaya,dan beraneka ragam.
   Melalui pendidikan pancasila sendiri,warga negara indonesia diharapkan dapat memahami,menganalisa,dan menjawab setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat.Dan mampu mengambil sikap bertanggung jawab sebagai warga negara yang baik sesuai dengan hati nuraninya,mampu berfikir integral tentang persoalan kehidupan berbangsa dengan pedoman pada nilai-nilai pancasila,mampu memecahkan masalah politik dngan dilandasi nilai-nilai keadilan.

FUNGSI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

          Sebagai cita-cita bernegara dan sarana yang mempersatukan masyarakat perlu perwujudan yang konkret dan operasional aplkatif.dan sebagai sarana penyelesaian prosedur konflik,dapat kita telusuri dari gagasan para pendiri Negara Indonesia tentang pentingnya mencari nilai-nilai bersama yang dapat mempersatukan berbagai golongan masyarakat Indonesia. Secara luas pengertian pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia adalah visi atau arah dari penyelenggaraan dari kehidupan berbangsa dan bernegara ialah terwujudnya kehidupan yang menjunjung dengan tinggi Ketuhanan, nilai kemanusiaan, kesadaran akan kesatuan, berkerakyatan serta menjunjung tinggi nilai keadilan.

Minggu, 13 Desember 2015

faktor pergaulan bebas





Remaja adalah usia transisi ketika seseorang mulai memasuki masa puber. Masa remaja adalah masa ketika remaja sedang dalam proses mencari identitas, mencoba sesuatu yang baru dalam dirinya. Remaja cenderung bersikap anti kritik dan membangkang. Itulah sebabnya mengapa remaja dapat dengan mudah masuk ke dalam pergaulan bebas.Pergaulan bebas adalah pergaulan atas dasar free. Salah satunya adalah free sex atau melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan. Selain free sex, remaja cenderung terjerumus pada hal "terlarang" lain, yaitu mengonsumsi minuman memabukkan dan obat-obatan. Banyak faktor pergaulan bebas yang membuat seseorang terjerumus.Problem KontemporerPenyebab pergaulan bebas karena masuknya budaya luar, melalui tontonan, bacaan, dan internet. Media massa memiliki andil besar dalam pembentukan karakter remaja. Misalnya, tayangan-tayangan film atau sinetron yang bercerita tentang pergaulan metropolitan, mudahnya mendapat VCD atau DVD porno, dan terbukanya akses internet.Rasa ingin tahu remaja sangat besar terhadap apapun. Awalnya coba-coba, akhirnya kebiasaan.Keluarga (Orang Tua)Faktor yang mempengaruhi remaja memilih pergaulan bebas bisa diakibatkan oleh orang tua atau terjadi konflik di dalam keluarga. Tak sedikit orang tua yang sibuk bekerja dan melupakan waktu bersama anak. Hubungan yang kaku antara orang tua dan anak, membuat anak bertanya-tanya dan tak sedikit di antara mereka mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang dilarang.Faktor LingkunganLingkungan adalah tempat individu tinggal dan melakukan aktivitas. Selain keluarga, terdapat lingkungan sekolah, teman dekat, dan lingkungan masyarakat.1. KawanPergaulan bebas bisa karena terbawa arus pergaulan kawan-kawan dekatnya. Apabila kawan-kawan dekatnya melakukan pergaulan bebas, anak akan melakukan hal serupa karena biasanya anak ingin menjadi bagian dari kawan-kawannya.2. Faktor MasyarakatLingkungan akan mempengaruhi anak untuk melakukan hubungan bebas. Lingkungan yang tidak sehat akan mendukung anak untuk melakukan hal-hal yang negatif. Apabila lingkungannya sehat, anak akan malu melakukan hal negatif karena terdapat hukumatau norma yang tidak tertulis di lingkungan tersebut. Maka, terciptalah budaya malu yang penting untuk diterapkan

Kamis, 10 Desember 2015

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (disingkat Babel) adalah sebuah Provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P. Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, memiliki pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkal Pinang. Pemerintahan provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari 2001. Setelah dilantiknya Pj. Gubernur yakni H. Amur Muchasim, SH (mantan Sekjen Depdagri) yang menandai dimulainya aktivitas roda pemerintahan provinsi.
Selat Banngka memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, sedangkan Selat Gaspar memisahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut China Selatan, bagian selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Pulau Belitung oleh Selat Karimata.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya adalah bagian dari Sumatera Selatan, namun menjadi provinsi sendiri bersama Banten dan Gorontalo pada tahun 2000. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 21 November 2000 yang terdiri dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung dan Kota Pangkalpinang. Pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 23 Januari 2003Bangka Selatan dan Belitung Timur. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan pemekaran wilayah dari Provinsi sumatera Selatan.

 dilakukan pemekaran wilayah dengan penambahan 4 kabupaten yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah,
uin-suka.ac.id

Senin, 07 Desember 2015

SEJARAH KODIFIKASI HADIST

A. Penulisan Hadits pada Periode Rasululloh SAW
Mengapa hadits tidak atau belum ditulis secara resmi padat masa Nabi, terdapat berbagai keterangan dan argumentasi yang kadang-kadang satu dengan yang lainnya saling bertentangan. Diantaranya ditemukan hadits-hadits yang sebagiannya membenarkan atau bahkan mendorong untuk melakukan penulisan hadits Nabi, di samping ada hadits-hadits lain yang melarang melakukan penulisannya.
Pada permulaan Islam, penulisan hadis merupakan inisiatif perorangan yang dilakukan oleh para sahabat tertentu seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lainnya. Mereka melakukan penulisan itu dengan dasar i’tikad baik dan dengan alasan-alasan tertentu pula. Misalnya mereka ingin menulis sabda Nabi pada pedang mereka, seperti dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. Mereka menulis hadis untuk dik
irimkan kepada para sahabat yang bertempat tinggal jauh

B. Penulisan Hadis setelah Nabi Wafat
            Setelah Nabi wafat para sahabat belum memikirkan penghimpunan dan pengkodifikasian hadits, karena banyaknya problem yang dihadapi, diantaranya timbulnya kelompok orang yang murtad, timbulnya peperangan sehingga banyak orang-orang asing/non Arab yang masuk Islam yang tidak paham bahasa Arab secara baik sehingga dikhawatirkan tidak bisa membedakan antara al-Qur’an dan hadits. Abu Bakar pernah berkeinginan membukukan Sunnah tetapi digagalkan karena khawatir terjadi fitnah di tangan penghafal al-Qur’an yang gugur dan konsentrasi mereka bersama Abu Bakar dalam membukukan al-Qur’an.
Meskipun begitu terdapat beberapa dokumentasi penting sebelum pengkodifikasian hadits secara resmi, diantaranya:
1. Ash-shahifah as-shodiqoh, tulisan Abdullah bin Amr bin Ash (w. 65 H). Tulisan ini berbentuk lembaran-lembaran sesuai namanya ash-shahifah (lembaran), memuat kurang lebih 1000 hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan kitab-kitab Sunan lainnya.
2. Ash-shahifah Jabir bin ‘Abd Allah Al-anshori (w. 78 H) yang diriwayatkan oleh sebagian sahabat. Jabir mempunyai majlis atau halaqoh di masjid Nabawi dan mengajarkan hadits-haditsnya secara imlak atau dikte.
3. Ash-shohifah Ash-shohihah, catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 130 H). hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah, berisikan kurang lebih 138 buah hadits. Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalm berbagai bab.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada abad pertama perkembangan hadis, sebagian perawi mencatat hadis-hadis dari para pendahulunya, sedang yang lain tidak mencatatnya. Dalam meriwayatkannya mereka berpegang pada ingatan dan kekuatan hafalannya. Keadaan demikian terus berlangsung hingga masa pemerintahan Abdul Aziz bin Marwan
C. Periode Tabi’in
Pada masa abad ini disebut masa Pengkodifikasian Hadits (al-jam’u wa at-Tadwin). Khalifh Umar bin Abdul Aziz (99-110 H) yakni yang hidup pada akhir abad 1H menganggap perlu adanya penghimpunan dan pembukuan hadits, karena beliau khawatir, lenyapnya ajaran-ajaran Nabi setelah wafatnya ulama baik dikalangan sahabat maupun tabi’in. maka beliau intruksikan kepada para gubernur diseluruh wilayah negeri Islam agar para ulama dan ahli ilmu menghimpun dan membukukan hadits. Muhammad bin Muslim bin Asy-Syihab Az-Zuhri dinilai sebagai orang pertama dalam melaksanakan tugas pengkodifikasian hadits dari khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Diantara buku-buku yang muncul pada masa ini adalah:
1. Al-Muwaththa’ yang ditulis oleh Imam Malik
2. Al-Mushannaf oleh Abdul Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani
3. As-Sunnah ditulis oleh Abd bin Manshur
4. Al-Mushannaf dihimpun oleh Abu Bakar bin Syaybah, dan
5. Musnad Asy-Syafi’i.
Teknik pembukuan hadits hadits pada periode ini sebagaimana disebutkan pada nama-nama tersebut, yaitu al-mushannaf, al-muwaththa’, dan musnad. Arti istilah-istilah ini adalah:
1. Al-Mushannaf dalam bahasa diartikan sesuatu yang tersusun. Dalam istilah yaitu teknik pembukuan hadits didasarkan pada klasifikasi hukum fiqh dan didalamnya mencantumkan hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’.
2. Al-Muwatththa’ dalam bahasa diartikan sesuatu yang dimudahkan. Dalam istilah Al-Muwaththa’ diartikan sama dengan Mushannaf.
3. Musnad dalam bahasa tempat sandaran sedang dalam istilah adalh pembukuan hadits yang didaarkan pada nama para sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut.
Perkembangan pembukuan hadits pada periode tabi’in ada 3 bentuk, yaitu sebagai berikut:
1. Musnad, yaitu menghimpun semua hadits dari tiap-tiap sahabat tanpa memperhatikan masalah atau topiknya, tidak perbab seperti Fiqih dan kualitasnya ada yang shahih, hasan dan dha’if. Misalnya musnad Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
2. Al-Jami’, yaitu teknik pembukuan hadits yang mengakumulasi Sembilan masalah yaitu aqa’id, hukum, perbudakan, adab makan minum, tafsir, tarikh dan sejarah, sifat-sifat akhlaq, (syamail), fitnah (fitan), dan sejarah (manaqib).
3. Sunan, teknik penghimpunan hadits secara bab seperti fiqih, setiap bab memuat beberapa hadits dalam satu topic, seperti Sunan An-Nasa’I, Sunan Ibn Majah, dan sunan Abu Dawud.
D. Periode Tabi’ Tabi’in
Periode ini masa yang paling sukses dalam pembukuan hadits, sebab pada masa ini ulama hadits telah berhasil memisahkan hadits Nabi SAW dari yang bukan hadits atau dari hadits Nabi, dari perkataan sahabat dan fatwanya dan telah berhasil pula mengadakan filterisasi (penyaringan) yang sangat teliti apa saja yang dikatakan Nabi, sehingga telah dapat di pisahkan mana hadits yang shahih dan mana yang bukan shahih. Yang pertama kali berhasil membukukan hadits shahih saja adalah Al-Bukhori kemudian disusul Imam Muslim. Oleh karena itu, periode ini dengan juga disebut masa kodifikasi dan filterisasi (Ashr Al-Jami’ wa At-Tashhih).
Pada masa ini lahir pula lahir buku induk enam (Ummahat kutub as-sittah), yang dijadikan pedoman dan referensipara ulama’ hadits berikutnya, yaitu:
1. Al-Jami’ Ash-Shahih li Al-Bukhori (194-256 H)
2. Al-Jami’ ash-Shahih li Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (204-261 H)
3. Sunan An-Nasa’i (215-303 H)
4. Sunan Abu Dawud (202-276 H)
5. Jami’ at-Tirmidzi (209-269 H)
6. Sunan Ibnu Majah Al-Qazwini (209-276 H)
E. Periode Setelah Tabi’ Tabi’in
Pada masa abad ini disebut Penghimpunan dan penertiban (Al-Jam’I al-Tartib), Ulama yang hidup pada abad ke 4 H dan berikutnya disebut ulama Mutaakhirin atau Khalaf (modern) sedang yang hidup sebelum abad 4 H disebut ulama mutaqaddimin atau Ulama Salaf (klasik). Perbedaan mereka dalam periwayatan dan kodifikasi hadits, ulama mutaqaddimin hadits Nabi dengan cara mendengar dari guru-gurunya kemudian mengadakan penelitian sendiri baik matan maupun sanadnya. Untuk itu mereka tidak segan-segan mengadakan perjalanan jauh untuk mengecek kebenaran hadits yang mereka dengar dari orang lain. Sedang ulama mutaakhirin cara periwayatan dan pembukuannya bereferensi dan mengutip dari kitab-kitab mutaqaddimin. Oleh karena itu, tidak banyak penambahan hadits pada abad ini dan berikuutnya kecuali hanya sedikit saja. Namun, dari segi tekhnik pembukuan lebih sistematik dari pada masa-masa sebelumnya.
Perkembangan teknik pembukuan pada abad ini yakni pada abad 4-6 ialah sebagai berikut:
1. Mu’jam, artinya penghimpunan hadits yang berdasarkan nama sahabat secara abjad (alphabet) seperti Al-mu’jam al-kabir Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani (w. 360 H). atau diartikan seperti Kamus ialah penghimpunan hadits didasarkan pada nama Masyayikh-nya atau negeri tempat tinggal atau kabilah secara abjad seperti Al-mu’jam al-awsath oleh penulis yang sama.
2. Shahih, artinya metode pembukuannya mengikuti metode pembukuan hadits Shahihayn (Al-bukhori dan Muslim) yang hanya mengumpulkan hadits shahih saja menurut penulisnya seperti Shahih Ibnu Hibban Al-bas’ti (w. 354 H) dan lain-lain.
3. Al-mustadrok, artinya menambah beberapa hadits shahih yang belum disebutkan dalam kitab Al-bukhori dan Muslim serta memenuhi persyaratan keduanya, seperti Almustadrok ‘ala Shahihayn yang ditulis Abi Abdillah Al-Hakim An-Naissaburi (w. 405 H).
4. Sunan, metode penulisannya seperti kitab sunan abad sebelumnya, yaitu cakupannya hadits-hadits tentang hukum seperti fikih dan kualitasnya meliputi shahih, hasan, dan dha’if, seperti Muntaqo ibn al-Jarud (w. 307 H), Syarah ad-Daruquthni (w. 385 H) dan Sunan Al-Bayhaqi (w. 458 H) .
5. Syarah, yakni penjelasan hadits baik yang berkaitan dengan sanad atau matan, terutama maksud dan makna matan hadits atau pemecahannya jika terjadi kontradiksi dengan ayat atau dengan hadits lain, misalnya Syarah Ma’ani Al-Atsar, dan Syarah Musykil Al-Atsar ditulis Ath-thahawi (w. 458 H).
6. Mustakhroj, yaitu seorang penghimpun hadits mengeluarkan beberapa buah hadits seperti yang diterima dari gurunya sendiri dengan menggunakan sanad sendiri, misalnya Mustadrok Abi Bakr Al-Isma’ili ‘ala Shahih Al-Bukhori (w.371 H).
7. Al-jam’u, gabungan dua atau beberapa buku hadits menjadi satu buku, Al-jam’u Bayn Ash-shahihayn yang ditulis oleh Ismail bin Ahmad yang dikenal dengan ibn al-Furat (w. 401 H).

Pada masa berikutnya abad ke 7-8 dan berikutnya disebut masa Penghimpunan dan Pembukuan Hadits secara sistematik(Al-jam’u wal At-tandzim).